
BATAM — Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kecamatan Lubuk Baja menggelar pembinaan keagamaan untuk memperkokoh moral serta pemahaman keagamaan warga di era modern. Acara yang dihelat di Gedung Serbaguna Baitul Jannah, Plamo Garden, Batam, pada Senin malam (24/8/2026) ini terasa istimewa karena menghadirkan ulama kawakan asal Karawang, KH. Imam Baihaqi.
Kegiatan yang diikuti sekitar seratus warga LDII Lubuk Baja tersebut berlangsung khidmat dan interaktif. Acara dimulai selepas salat Isya berjamaah, diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Ust. Ikbal, dan dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Penasehat LDII Lubuk Baja, H. Armed Sumedi.
Budi Pekerti Luhur Jadi Ukuran Kepahaman Agama
Dalam sambutannya, H. Armed Sumedi menegaskan bahwa budi pekerti luhur merupakan ukuran utama kepahaman agama bagi warga LDII di mana pun berada. Karakter mulia ini dinilai sebagai fondasi esensial dalam beribadah, bermasyarakat, hingga menjaga keutuhan bangsa.
“Budi luhur merupakan perintah Allah dan Rasul, yang mendatangkan balasan pahala di akhirat. Sementara untuk kehidupan sehari-hari, budi luhur berfungsi untuk menjaga kondusivitas lingkungan, menjadi perekat kerukunan, kekompakan, serta persatuan dan kesatuan bangsa,” tutur Armed di hadapan ratusan jemaah.
Pesan KH. Imam Baihaqi: Syukuri Tiga Nikmat Dunia
Memasuki sesi inti, KH. Imam Baihaqi dari Pondok Pesantren Sumber Barokah, Karawang, mengupas tuntas makna tiga kenikmatan dunia berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW (HR. Tirmidzi Nomor 2346). Ia menjelaskan, seorang hamba yang memasuki waktu pagi dalam kondisi sehat, hatinya tenang, serta memiliki makanan untuk hari itu, maka ia seakan-akan telah memperoleh dunia dan seisinya.
“Jika kita telah dianugerahi kenikmatan berupa kesehatan badan, ketenangan hati, tercukupi kebutuhan pokoknya, serta keselamatan keluarganya, maka sungguh Allah SWT telah memberikan kita kenikmatan yang besar dan mulia,” tegas KH. Imam.
Ia mengingatkan, nikmat tersebut sepatutnya disyukuri dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT, menjauhi kemaksiatan, dan senantiasa mengingat-Nya.

Ingatkan Singkatnya Waktu di Dunia
Di hadapan para jemaah, pengasuh pondok pesantren asal Karawang ini juga menyoroti singkatnya waktu kehidupan dunia jika dibandingkan dengan akhirat. Mengacu pada Surah Al-Hajj ayat 47, ia mengilustrasikan bahwa sehari di sisi Allah setara dengan seribu tahun perhitungan manusia.
Menurut perhitungannya, jika rata-rata usia manusia mencapai 63 tahun di dunia, maka durasi tersebut hanya berlangsung sekitar 1,5 jam saja jika dihitung dengan waktu akhirat. Sayangnya, banyak manusia hari ini justru terlena dan berlomba-lomba menumpuk harta duniawi sambil melupakan bekal akhirat yang kekal.
“Mengapa hanya fokus mengejar dunia padahal kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja?” kritik KH. Imam yang mengingatkan pentingnya menyeimbangkan orientasi hidup antara dunia dan akhirat sesuai tuntunan QS Al-Qashash: 77.
Latihan Konsisten Kendalikan Hawa Nafsu
Menutup rangkaian pembinaan keagamaan yang diakhiri dengan doa bersama, KH. Imam berpesan agar penerapan budi luhur tidak instan, melainkan harus dilatih secara terus-menerus mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan masyarakat luas.
“Untuk mewujudkan hal tersebut, semuanya dituntut mampu mengendalikan hawa nafsu dan emosi, belajar mengalah, serta lebih mementingkan kepentingan yang lebih besar dibandingkan kepentingan pribadi sesaat,” pungkasnya.

DPW LDII Kepulauan Riau Website Resmi DPW LDII Kepulauan Riau