Batam – Di tengah dinamika keberagaman yang sering kali memicu narasi perpecahan, DPW LDII Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) justru memperkuat tali persaudaraan. Dalam momentum Silaturahim Syawal, LDII Kepri menerima kunjungan hangat dari perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur untuk membahas penguatan ukhuwah Islamiyah.
Pertemuan yang berlangsung penuh keakraban ini digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) Abdul Dhohir, Sekupang, Batam, Jumat (27/3/2026). Hadir sebagai tamu kehormatan, Ketua Bidang Komisi Hubungan Ulama dan Umara (Komhub/HUU) MUI Jawa Timur sekaligus Pengasuh Ponpes Luhur At-Tholibin, KH. Drs. Abd. Mutholib.
Toleransi Masalah Furu’iyah Jadi Kunci
Dalam tausiyahnya, KH. Abd. Mutholib menyoroti bahwa tantangan terbesar umat Islam saat ini tidak hanya datang dari faktor eksternal, melainkan juga dari gesekan internal. Ia menekankan pentingnya konsep tasamuh atau toleransi di antara sesama organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.
“Toleransi antar sesama ormas Islam harus dikedepankan dengan menjaga ukhuwah Islamiyah dan menghindari konflik akibat perbedaan furu’iyah (cabang agama),” ujar KH. Abd. Mutholib.
Menurutnya, perbedaan pandangan dalam hal-hal teknis ibadah tidak boleh menjadi pemicu keretakan, melainkan harus dipandang sebagai ruang saling menghargai dalam koridor syariat yang luas.
Pendidikan Formal Berbasis Karakter
Ketua DPW LDII Kepri, dr. H. Rulifa Syahroel, yang menyambut langsung kunjungan tersebut bersama jajaran Dewan Penasehat, memaparkan perkembangan dakwah di Kepulauan Riau. Salah satu capaian yang diperkenalkan adalah transformasi Ponpes Abdul Dhohir menjadi lembaga pendidikan formal melalui SMP dan SMA Budi Luhur Boarding School.
Langkah ini diambil untuk memastikan generasi muda LDII tidak hanya mumpuni secara agama, tetapi juga kompeten secara akademik dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat.
Komitmen Kebangsaan: NKRI Harga Mati
Senada dengan MUI Jatim, dr. Rulifa menegaskan bahwa titik temu seluruh ormas Islam di Indonesia adalah komitmen terhadap empat pilar kebangsaan.
“Selama kita berpegang teguh pada NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, maka perbedaan mazhab harus disikapi dengan toleransi, bukan perpecahan,” tegas dr. Rulifa.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga napas Islam moderat (wasathiyah) serta menjauhkan diri dari paham radikalisme dan ekstremisme. Baginya, nilai tasamuh adalah implementasi nyata dari ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
“Islam harus menghadirkan kedamaian dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat di Kepulauan Riau,” pungkasnya.


DPW LDII Kepulauan Riau Website Resmi DPW LDII Kepulauan Riau