Bangun Peradaban Lewat Akhlak dan Keteladanan, LDII Kota Batam Perkuat Kualitas Mubaligh

Melalui pengajian rutin berbasis Al-Qur’an dan Hadis, LDII Kota Batam tegaskan komitmen kembangkan “Green Dakwah” yang menyejukkan dan mencerdaskan masyarakat di tengah kompleksitas tantangan zaman.

BATAM — Di tengah tantangan dakwah yang semakin kompleks, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Batam terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia para juru dakwah.

Hal tersebut ditegaskan dalam kegiatan Pengajian Mubaligh-Mubalighat se-Kota Batam yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang (PC) LDII Bengkong. Bertempat di Masjid Baitul Makmur, Bengkong Swadebi, Kota Batam, kegiatan ini dihelat pada Minggu (27/7/2026).

Acara yang berlangsung khidmat sejak pukul 09.00 WIB ini diikuti oleh ratusan mubaligh dan mubalighat yang berasal dari delapan Pimpinan Cabang LDII se-Kota Batam. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan berkelanjutan yang konsisten digelar setiap bulan guna meningkatkan kualitas dakwah yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadis sahih.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan secara resmi dibuka oleh Dewan Penasihat LDII Kota Batam, KH. Teguh Purnumo Hadi.

Bekal Menuju Akhirat dan Internalisasi 29 Karakter Luhur

Dalam sesi pemaparan materi, hadir dua narasumber kompeten, yakni Ketua Biro Pendidikan Keagamaan dan Dakwah DPW LDII Kepulauan Riau, Ust. Dr. Afi Parnawi, serta KH. Masruchin dari Bidang Pendidikan Keagamaan dan Dakwah DPD LDII Batam.

Kedua pemateri mengupas tuntas prinsip menegakkan kebenaran dan ketakwaan kepada Allah SWT yang diinternalisasikan ke dalam sistem pembinaan karakter umat, yakni konsep 29 Karakter Luhur. Konsep ini dirancang untuk memadukan kesalehan spiritual (hubungan vertikal dengan Allah) dan kesalehan sosial (hubungan horizontal dengan sesama manusia).

Ust. Afi Parnawi dalam materinya mengingatkan para jemaah dan mubaligh agar tidak terlena dengan kehidupan dunia. Ia menekankan bahwa perjalanan terpanjang dan terberat manusia bukanlah di dunia, melainkan perjalanan menuju akhirat yang menuntut perbekalan amal saleh yang banyak.

Mengutip firman Allah SWT dalam QS. An-Nahl ayat 18, Afi mengajak para mubaligh untuk senantiasa merenungi nikmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya—mulai dari nikmat kesehatan, rasa aman, hingga hidayah Islam.

“Dunia ini bukanlah tempat tinggal yang kekal, melainkan sebuah perjalanan. Kita di dunia ini bagaikan orang asing atau seorang musafir,” ujar Afi di hadapan ratusan peserta.

Ia juga mengingatkan sebuah hadis riwayat Bukhari bahwa ketika seseorang meninggal dunia, ada tiga perkara yang mengiringinya: keluarga, harta, dan amal perbuatannya. Dua perkara pertama akan kembali pulang, sementara satu-satunya yang setia tinggal membersamai adalah amal perbuatan.

Doa Sebagai Perisai Mukmin

Sementara itu, pada sesi berikutnya, KH. Masruchin menyoroti pentingnya memperbanyak doa kepada Allah SWT. Menurutnya, doa adalah perisai sekaligus senjata utama seorang mukmin serta inti dari segala bentuk ibadah.

Para mubaligh-mubalighat sebagai garda terdepan penyampai nasihat agama diingatkan untuk selalu menyandarkan segala urusan—baik perkara besar maupun sekecil apa pun—hanya kepada Allah SWT.

“Berdoa merupakan bentuk pengakuan atas kelemahan kita sebagai makhluk. Seseorang yang enggan berdoa dinilai sombong karena merasa tidak membutuhkan Tuhannya,” tegas KH. Masruchin. Ia menambahkan, kendati doa tidak selalu serta-merta menghentikan cobaan hidup, doa mampu memberikan keteguhan hati yang luar biasa agar manusia terhindar dari kerasnya fitnah dunia.

Wujudkan “Green Dakwah” yang Menyejukkan

Rangkaian pengajian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Dewan Penasihat LDII Kota Batam, H. KH. Teguh Purnumo Hadi, yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Dzuhur berjemaah.

Melalui pembinaan berkesinambungan ini, LDII Kota Batam menegaskan visinya dalam mengembangkan konsep Green Dakwah, sebuah model dakwah yang menyejukkan, mencerdaskan, dan senantiasa memberikan solusi konkret bagi permasalahan umat.

Harapannya, para mubaligh tidak sekadar berfungsi sebagai penyampai ilmu keagamaan, melainkan mampu menjadi teladan nyata yang menghadirkan persatuan, kedamaian, serta kemajuan di tengah kehidupan masyarakat Batam yang heterogen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *