
Batam — DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) kembali mengakselerasi program peningkatan mutu juru dakwahnya secara masif. Ribuan mubaligh dan mubalighot dari dalam negeri hingga mancanegara dikumpulkan dalam pembekalan rutin bulanan yang digelar secara hybrid dari Gedung Serbaguna Ponpes Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (13/6/2026) siang.
Dalam agenda pasca-Zuhur tersebut, DPP LDII menghadirkan ulama senior, KH. M. Thoyibun dari Pondok Pesantren Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur, sebagai pembicara utama.
Di wilayah Kepulauan Riau (Kepri), pembekalan ini disiarkan secara real-time melalui tiga studio mini strategis yang tersebar di Kota Batam, Tanjungpinang, dan Tanjung Balai Karimun.
Untuk wilayah Batam, perhelatan dipusatkan di Masjid Miftahul Huda, Bengkong. Tercatat sebanyak 92 mubaligh-mubalighot utusan dari 8 Pimpinan Cabang (PC) LDII se-Kota Batam hadir menyerap materi. Agenda di Batam ini dikawal langsung oleh Wakil Ketua DPW LDII Kepri H. Siajis, Dewan Penasehat LDII Batam H. Anwar, Ketua Tim Pembina Mubaligh H. Fahrudin, serta Ketua Tim Pembina Penggerak Generasi Penerus LDII Batam H. Irvan Sumaga.
‘Mega Proyek’ Cetak Generasi Emas Qurani
Dalam tausyiahnya, KH. M. Thoyibun membedah tema krusial mengenai “Praktek Penerapan 29 Karakter Luhur kepada Generasi Penerus (Generus)”. Ia menggarisbawahi bahwa anak muda merupakan aset paling berharga yang berfungsi sebagai jangkar kelestarian nilai-nilai Al-Qur’an dan Al-Hadits hingga akhir zaman.
Membentuk kepribadian generasi muda ini disebutnya sebagai sebuah ‘mega proyek’ peradaban yang besar. Oleh karena itu, tingkat keberhasilannya mustahil jika hanya bertumpu pada satu poros kelembagaan saja.
“Harus ada orkestrasi dan kerja sama yang solid dari lintas sektor di setiap tingkatan, mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga pusat. Ini melibatkan sinergi lima unsur pembina generus, yaitu Ulil Amri, Alim Ulama, Mubaligh-Mubalighot, Pakar Pendidik, dan Orang Tua,” urai KH. M. Thoyibun.
Ulama asal Kediri ini mengingatkan agar pembentukan watak luhur tidak terjebak pada sekadar retorika normatif di atas kertas atau materi tahunan belaka. Karakter harus mewujud dalam tindakan nyata yang dilatih, dibiasakan, dipantau, serta dievaluasi secara terukur.
“Semua unsur pembina hendaknya bergerak dengan irama yang sama. Jangan hanya menuntut anak menjadi baik tanpa kita sendiri memberi uswah (contoh). Jangan sekadar menegur saat mereka salah, melainkan bimbing bagaimana cara yang benar, dan kawal programnya sampai menjadi kebiasaan hidup,” tegasnya lugas.

Karakter Tumbuh dari Apa yang Anak Lihat
Sinergi pandangan ditunjukkan oleh Wakil Ketua DPW LDII Kepri, H. Siajis. Dalam arahannya di hadapan puluhan mubaligh di studio Batam, ia menyatakan dengan tegas bahwa mimbar pengajian atau lembaran buku panduan tidak akan cukup untuk mengubah perilaku anak jika tanpa implementasi riil di lapangan.
“Karakter itu tidak tumbuh otomatis hanya karena anak mendengar nasihat. Karakter tumbuh subur karena anak melihat contoh nyata di sekitarnya. Mereka diberi ruang mempraktikkannya, dibimbing sabar saat keliru, dan diapresiasi saat benar. Proses ini harus dimonitor, dievaluasi, dan didampingi terus-menerus sampai melekat dalam urat nadi mereka,” papar H. Siajis.
Di akhir sambutannya, H. Siajis optimistis bahwa konsistensi pergerakan seluruh elemen pembina di Kepri akan membawa dampak masif bagi masa depan organisasi. Jika integrasi ini berjalan mulus, penerapan 29 Karakter Luhur dipastikan bertransformasi dari sekadar slogan organik menjadi identitas perilaku keseharian generasi penerus LDII.

DPW LDII Kepulauan Riau Website Resmi DPW LDII Kepulauan Riau