
Batam – Di tengah ancaman darurat sampah yang kian nyata di berbagai kota besar Indonesia, warga LDII Sekupang justru menunjukkan langkah konkret: mengubah sampah menjadi berkah ekonomi sekaligus solusi lingkungan.
Melalui program Bank Sampah yang digerakkan PC LDII Sekupang, sebanyak 1,3 ton sampah warga setiap pekan berhasil dikonversi menjadi nilai rupiah. Inisiatif ini menjadi bukti nyata implementasi 8 Bidang Pengabdian LDII untuk Bangsa, khususnya pada sektor lingkungan hidup.
Gerakan ini tidak sekadar wacana. Warga Patam Asri-Sekupang aktif memilah sampah sejak dari rumah tangga, memisahkan antara organik dan anorganik. Langkah sederhana ini terbukti mampu menekan volume sampah ke TPA sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis daur ulang.
Program serupa juga diterapkan di Pondok Pesantren Abdul Dhohir Sekupang. Para santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga dibekali keterampilan mengelola sampah secara mandiri. Mulai dari mengolah sampah organik menjadi kompos dan pakan ternak, hingga mendaur ulang sampah anorganik menjadi produk bernilai guna.
Gerakan ini sejalan dengan konsep zero waste dan upaya pengurangan emisi karbon. Lebih dari itu, LDII ingin membentuk generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga peduli secara sosial dan ekologis.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi PC LDII Sekupang dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam yang memberikan pendampingan sekaligus menjamin penyerapan hasil pilahan sampah warga dengan harga kompetitif.

Ketua DPW LDII Kepulauan Riau, H. Rulifa Syahroel, menegaskan bahwa gerakan ini adalah langkah strategis yang harus diperluas. “Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Apa yang dilakukan warga Sekupang ini bukan simbolik, tapi nyata dampaknya. Ini harus jadi gerakan bersama,” ujarnya.
Ia juga mengajak generasi muda LDII untuk tampil sebagai motor penggerak perubahan. “Anak muda LDII harus jadi agen perubahan. Tidak cukup hanya mengaji, tapi juga peduli lingkungan. Menjaga bumi adalah bagian dari ibadah,” tegasnya.
Menurutnya, peran dewan penasehat, kiai, dan pinisepuh sangat krusial sebagai teladan dan penggerak moral dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah program ini berhasil, tapi siapa yang siap menyusul? Gerakan sudah dimulai. Dampak sudah terlihat. Saatnya komunitas lain bergerak.
DPW LDII Kepulauan Riau Website Resmi DPW LDII Kepulauan Riau